LAPORAN BACAAN PERTEMUAN MINGGU Ke – 16 [PENDIDIKAN SASTRA INDONESIA] MATA KULIAH PENGANTAR PENGKAJIAAN KESUSASTRAAN Dosen Pengampu : Dr. Abdurahman, M.pd.

Nama: Ameliya Ditasya
NIM: 23016135
Program Studi: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni 
Universitas Negeri Padang 


PENDAHULUAN

        Pendidikan sastra merupakan bagian dari Pendidikan bahasa. Dimasukkannya Pendidikan sastra ke dalam Pendidikan bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum, sastra adalah segala sesuatu yang ditulis. Pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit. Dianggap terlalu luas karena, dengan demikian, semua buku termasuk sastra. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan, dengan demikian, tidak termasuk dalam sastra (Sumaryadi, 2008).Pendidikan sastra penting bagi siswa karena berhubungan erat dengan keharuan. Sastra dapat menimbulkan rasa haru, keindahan, moral, keagamaan, khidmat terhadap Tuhan, dan cinta terhadap sastra bangsanya (Broto, 1982:67). 

        Pada proses Pendidikan sastra tentunya melibatkan guru sastra (dalam hal ini guru bahasa Indonesia) sebagai pihak yang mengajarkan sastra, dan siswa sebagai subjek yang belajar sastra. Dalam Pendidikan sastra ada suatu metode –sebagai suatu alternatif—yang menawarkan keefektifan kerja guru bahasa Indonesia. Jika berbicara masalah metode tidak dapat lepas dari masalah pendekatan atau ancangan (approach) yang menurunkan metode (method). Untuk selanjutnya, suatu metode ternyata akan menyarankan penggunaan teknik-teknik tertentu pula. Dengan demikian, secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran, yaitu: pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique).


PEMBAHASAN

A. Pendidikan Sastra dan Materi serta Strategi Membelajarkan Sastra

        Sastra diajarkan di sekolah dikemukakan oleh Moody (1971) dalam bukunya The Teaching of Literature,  ada  yang dapat diperoleh dari belajar sastra, yaitu untuk memupuk keterampilan berbahasa, untuk melatih kepekaan akan keindahan, untuk mampu menghayati tema kemanusiaan, moral, budi pekerti yang luhur, dan untuk memahami watak sesama manusia, perbedaan antara satu dengan yang lain sehingga melatih solidaritas, dan untuk melatih kepekaan sosial dalam arti memahami penderitaan sesama manusia.

        Sehubungan dengan efek yang diperoleh dari belajar  sastra, maka Pendidikan sastra hendaknya efektif, kontekstual, dan inovatif. Dalam mewujudkan Pendidikan ini diperlukan modal bagi guru pengetahuan tentang sastra dan mengajarkan sastra, minat senang terhadap sastra, dan mengetahui strategi yang efektif, kontekstual dan inovatif dalam Pendidikan sastra. Di samping itu juga harus diikuti pemahaman yang baik terhadap kurikulum, karakteristik peserta didik, dan sarana prasana yang dimiliki sekolah.

        Pendidikan sastra yang efektif, kontekstual, dan inovatif adalah  Pendidikan yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Selain itu mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan tersebut berusaha menciptakan suasana yang berbeda dengan suasana Pendidikan yang sudah ada, seperti Pendidikan yang memanfaatkan model Pendidikan mutakhir (role play, jigsaw, problem-based learning) (Zaini, dkk, 2007).

Alternatif yang dapat ditempuh diuraikan sebagai berikut.

a. Pertama berusaha menghadirkan  sastra yang dapat menarik minat peserta didik. Cara yang ditempuh misalnya membaca karya sastra (cerpen, puisi, teks drama) karya peserta didik, dari majalah atau koran. Hal ini dilakukan agar karya sastra berkaitan atau dekat dengan dunia peserta didik, segingga mereka mudah untuk berinteraksi atau berpartisipasi. Cara lain misalnya menghadirkan sinetron, film, atau lagu yang sering mereka saksikan atau nyanyikan. Dengan demikian mereka berpeluang untuk berbicara.

b. Langkah berikutnya menanamkan konsep teori melalui kegiatan pertama. Cara ini ditempuh agar peserta didik tidak merasakan belajar secara teoretis sebagaimana yang telah dilakukan banyak guru selama ini. Ketika peserta didik dihadapkan pada salah satu film misalnya, Laskar Pelangi , maka peserta didik yang difasilitasi oleh guru akan interaktif terhadap hal tersebut. Di situlah guru bertanya jawab sekaligus menanamkan konsep teori. Pelaku dikaitkan dengan tokoh, jalan cerita dikaitkan dengan alur, dst.

c. Jika langkah kedua berjalan dengan menyenangkan, maka guru membawa peserta didik pada karya sastra yang ringan, diambil dari karya peserta didik sendiri. Bisa yang dimuat di majalah dinding atau tugas guru, sastra koran atau majalah. Hal ini dilakukan agar perubahan suasana yang peserta didik telah tertarik tadi setahap dibawa pada suasana karya yang sesungguhnya, namun karya ringan yang mudah diapresiasi peserta didik.

d. Langkah Pendidikan agar kebermaknaan diperoleh dengan mengaitkan nilai-nilai yang dapat dipetik dari karya sastra dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal ini yang akan membawa Pendidikan sastra akan  dapat membekali peserta didik dengan kehalusan budi, moral, berkepribadian, dst. Hal ini dilakukan dalam rangka membekali peserta didik dengan life skill (kecakapan hidup).

e. Langkah berikutnya memvariasikan strategi Pendidikan yang dengan strategi itu peserta didik interaktif dalam Pendidikan. Misalnya dengan strategi jigsaw, pada strategi ini kelas dibagi ke dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok diberi satu karya sastra (cerpen/prosa) dengan tugas menganalisis salah satu unsur intrinsik karya sastra tersebut. Setelah hasil diperoleh, setiap individu peserta kelompok bertukar ke kelompok lain yang ada, sehingga masing-masing kelompok akan mendapat materi dari seluruh kelompok yang ada. Selanjutnya individu tadi kembali ke kelompoknya semula dan merangkum hasil diskusi, maka setiap kelompok sudah mendapatkan hasil analisis seluruh unsur intrinsik dengan cara bekerja sama dengan kelompok lain. Kegiatan akhir adalah mempresentasikan hasil diskusi, kelompok lain hanya menanggapi karena pada prinsipnya hasil seluruh kelompok sudah terangkum pada satu kelompok. 

f. Kegiatan berikutnya tinggal melanjutkan pada karya yang berbeda, seperti puisi, teks drama atau bermain peran, serta bertahap mengenalkan karya sastra pada tingkat tyang lebih tinggi.

        Variasi dengan media pembelajaran dapat dilakukan, seperti media audio dengan sandiwara radio baik secara langsung atau dengan rekam ulang, media audiovisual dengan televisi atau VCD. Bahkan dapat menggunakan tayangan melalui LCD. Langkah yang ditempuh pada prinsipnya sama hanya wujud karya sastranya dihadirkan dengan menggunakan media. Hal inipun akan menunbuhkan sikap yang berbeda juga pada peserta didik ketika mereka berhadapan dengan sastra yang di-mediamassa-kan baik melalui media elektronik maupun melalui media elektronik. Sikap mereka akan mengikuti sikap yang ditumbuhkan guru melalui media tersebut.


PENUTUP

        Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan sastra yang efektif, kontekstual, inovatif di sekolah dapat ditempuh dengan cara menarik minat dengan menghadirkan karya sastra dalam berbagai bentuk, menghadirkan karya sastra ringan, menyisipkan konsep teori, mengaitkan nilai karya sastra dengan kehidupan peserta didik agar kebermaknaan sastra diperoleh, variasi strategi Pendidikan aktif dan kreatif, dan variasi media baik elektronik maupun media cetak.

 
DAFTAR PUSTAKA

Broto, A.S. 1982. Metode Proses Belajar-Mengajar Berbahasa Dewasa Ini. Solo: Tiga Serangkai

Tim Pelatiham MMAS. 2001. Pendidikan Sastra Sekarang dan Kurikulum Masa Depan.

Waluyo, Herman J. 2009. Makalah. “Pengajaran Sastra, Kreativitas, dan Multikulturalisme”. Disajikan dalam Seminar Nasional Keragaman Model Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni Budaya yang Kreatif dan Inovatif: JPBS, FKIP UNS Surakarta.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik Novel Karya Tenderlova: “Tulisan Sastra”

ANALISIS UNSUR INSTRINSIK DAN EKSTRINSIK TEKS CERPEN “SURAT UNTUK EMAK” KARYA E ROKAJAT ASURA Oleh: Ameliya Ditasya (23016135) Email: Ameliya.1425@gmail.com

Nilai Dalam Novel Karya Sastra Azhara Natasya: Retak