Analisis Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik Novel Karya Tenderlova: “Tulisan Sastra”

ANALISIS UNSUR INSTRINSIK DAN EKSTRINSIK NOVEL  “TULISAN SASTRA” KARYA TENDERLOVA

Oleh: Ameliya Ditasya (23016135)

Email: Ameliya.1425@gmail.com


Abstrak

            Penelitian ini menelaah unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel yang berjudul “Tulisan Sastra” karya Tenderlova. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, mendeskripsikan, dan menafsirkan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang ada dalam novel “Tulisan Sastra”. Analisis ini menggunakan pendekatan struktural. Unsur intrinsik atau unsur pembangun yang dibahas adalah fakta yang ada dalam novel yang terdiri atas tema, latar, alur, sudut pandang, tokoh, perwatakan dan kemudian amanat. Sedangkan untuk unsur ekstrinsik yang di analisis meliputi latar belakang masyarakat, latar belakang pengarang dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen. Penelitian dalam novel “Tulisan Sastra” menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan struktural. Pendekatan struktural merupakan suatu pendekatan dalam ilmu sastra dengan cara kerjanya menganalisis unsur-unsur dan struktur yang membangun karya sastra dari dalam cerita serta mencari keterkaitan unsur pembangun tersebut untuk mencapai kebulatan makna. Pengolahan data untuk menggunakan teknik analisis struktural, unsur intrinsik dan ekstrinsik novel dengan mengidentifikasi dengan cara membaca dan mencatat. Dalam menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik novel “Tulisan Sastra” dapat dijadikan pemanfaatan menjadi motivasi bagi pembaca.


1. Pendahuluan

            Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya ketertarikan peneliti untuk membedah unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam novel karya Tenderlova yang berjudul “Tulisan Sastra”. Peneliti merasa bahwa novel tersebut sangat unik dan menarik untuk dibedah dari segi bacaannya dan dari segi unsur-unsur yang ada dalam novel “Tulisan Sastra”. Unsur-unsur inrtinsik dan ekstrinsik yang sangat menarik untuk diteliti diantaranya adalah tema, latar, alur, penokohan, sudut padang, gaya Bahasa, amanat dan latar belakang masyarakat, latar belakang pengarang dan nilai-nilai yang terkandung dalam novel. Dalam hal ini penelitian juga bertujuan untuk menganalisis, mendeskripsikan dan menafsirkan unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam novel “Tulisan Sastra” karya Terderlova. Menganalisis dari mulai tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya Bahasa, amanat, latar belakang masyarakat, latar belakang pengarang serta nilai-nilai yang terkandung dalam novel.

            Sastra berasal dari bahasa sanskerta yaitu kata "shastra" yang merupakan kata serapan dari bahasa sansekerta, memiliki makna "teks yang mengandung intruksi atau pedoman”. Kata "sas'' yang memiliki makna “intruksi atau ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasanya digunakan untuk mengacu kepada " kesusastraan " atau sesuatu tulisan yang memiliki arti, makna dan juga sesuatu yang memiliki suatu keindahan tertentu.

            Disini nantinya peneliti akan melakukan tindakan pendeskripsian terhadap unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam novel “Tulisan Sastra”. Karya sastra merupakan bentuk hasil ciptaan manusia yang dilandaskan dengan pemikiran manusia, dimana di dalamnya terdapat imajinasi manusia yang dituangkan kedalam bentuk media lisan dan tulisan, sastra ini memiliki sifat khayalan seakan-akan menyatakan dan mengungkapkan suatu bentuk kefaktaan. Tetapi sastra juga memiliki nilai keindahan di dalamnya, tetapi sastra juga dapat terbentuk karena adanya pemikiran yang mendalam bukan hanya sebatas pemikiran tanpa adanya kejadian.

            Novel dapat diartikan sebagai salah satu bentuk dari karya sastra fiksi yang paling baru. Secara etimologis novel berasal dari kata novellus memiliki arti "Sesuatu baru ". Novel dapat berarti baru karena kemunculannya kemudian dipadankan dengan jenis-jenis lain seperti roman atau puisi (Tarigan, 2003: 164). Stanton (dalam Akbar, Winarni & Andayani, 2013: 57) mengatakan karya sastra seperti novel merupakan karya sastra yang mudah maupun lebih sulit dibaca jika dibandingkan dengan cerpen. Dikatakan lebih mudah karena sebuah novel tidak dibebani tangung jawab untuk menyampaikan cerita dalam bentuk ringkas, cepat dan padat. Sedangkan dianggap lebih sulit, isi dari novel memiliki skala lebih besar dan luas dibanding cerpen.


2. Metode Penelitian

            Menurut Mahmud Yunus “metode adalah jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan perusahaan atau perniagaan, maupun dalam kupasan ilmu pengetahuan dan lainnya.” Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode mengandung arti adanya urutan kerja yang terencana dan sistematis guna mencapai tujuan yang direncanakan. (Armai. 2002. 87).

            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis sastra. Data yang digunakan adalah cerpen “Surat Untuk Emak” karya dari E Rokajat Asura. Data akan di analisis berdasarkan unsur instrinsik dan ekstrinsik cerpen.


3. Hasil dan Pembahasan

Identitas Buku

•Judul Novel: Tulisan Sastra

•Penulis Novel: Tenderlova

•Penerbit Novel: LovRinz Publishing

•Kota Terbit: Cirebon, Jawa Barat

•Tahun Terbit: 2020

•Tebal Halaman: 303 halaman

•ISBN: 978-623-289-095-4

Sinopsis Novel Tulisan Sastra

Sastra, berapa lama manusia mampu bertahan seorang diri dalam kegelapan?

Tertatih tanpa harapan, terkoyak atas takdir yang tak berperasaan.

Sastra, berapa lama manusia mampu melupakan luka yang tak berjejak tanpa suara?

Dirundung perih yang menyiksa, dihantam pilu yang menderu.

Seingatku, semalam aku menangisi tanpa suara. Hanya untuk mengenangmu yang kini entah berada di mana?

Sepekan, dua pekan, ke arah mana aku harus mengais jejakmu.

Ke arah mana agar aku mampu berlari memelukmu?

Sastra…

Kemana arah jalan untuk kembali menemukanmu?

"Sastra, kamu lupa tentang satu hal. Semakin singkat suatu cerita, semakin dalam luka yang tertoreh. Kehilangan memang akan terus terjadi. Tapi kalau boleh aku memilih, aku belum siap kehilangan kamu."

“Yang pergi biarlah pergi, yang tinggal sudah seharusnya dijaga. Kalau nggak ada yang abadi dalam bahagia, berarti nggak ada yang abadi juga dalam sedih.”

Kutipan yang tercetak jelas dalam sampul ini sedikit menjelaskan bagaimana isi cerita di dalamnya. Seperti yang Sastra bilang, hidup itu perihal menyambut dan kehilangan.

            Buku yang berjudul Tulisan Sastra karya Tenderlova ini menceritakan tentang Sastra, si anak tengah dari keluarga Suyadi. Ia merupakan sosok yang humoris, sikapnya selalu membuat geleng kepala, juga dapat membuat tertawa. Sebut saja dia sebagai happy virus. Sastra mahir bergitar, ke mana pun ia pergi selalu membawa gitarnya. Tetapi ada impian yang ingin Sastra wujudkan, yaitu tampil di sebuah panggung besar dengan memainkan piano. Ya, mimpinya adalah menjadi seorang pianis.

            Selain memiliki sifat humoris, Sastra juga dapat menjadi seorang yang romantis dan tragis. Pasalnya, Sahara, gadis yang sekarang ini berstatus menjadi kekasihnya. Ia hanya menjadikan Sastra sebagai tempat pelarian semata. Berbeda dengan Sastra yang menganggap Sahara adalah sosok spesial dan selalu menjadi sumber penyemangatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Sahara perlahan-lahan mulai dapat menerima dan mencintai Sastra.

            Ketika Sahara mulai jatuh cinta pada Sastra, kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Pada malam yang sepi, setelah mengantarkan Sahara pulang, hujan mengguyur jalanan, Sastra mengalami kecelakaan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya, karena kondisi tubuhnya semakin menurun, Sastra pun tidak bisa terselamatkan. Kepergiannya memberi luka yang mendalam bagi Sahara, keluarga Suyadi, dan teman-temannya. Bagi Sahara, mungkin ini adalah sebuah karma yang harus ia tanggung karena dulu telah menyia-nyiakan Sastra.

3.1 Unsur Instrinsik Novel

3.1.1 Judul: Judul adalah kepala karangan dalam cerita, drama, dan sebagainya, atau disebut juga tajuk. Judul novel adalah “Tulisan Sastra”

3.1.2 Tema: Tema adalah dasar dari cerita, ide dasar dari sebuah karya. Ide dasar biasanya digunakan untuk mengembangkan cerita. Tema: Keluarga, romantis dan komedi

3.1.3 Alur: Alur atau jalan cerita terdapat tiga macam yaitu alur maju, alur mundur, dan alurpendek. Pada novel “Tulisan Sastra” karya Tenderlova adalah alur maju dan alur mundur atau alur campuran

3.1.4 Tokoh: 1) Andhika Sastra Gautama
        2) Sahara
        3) Jefery
        4) Adhitama Abelvan
        5) Eros Bratadikara Nayaka
        6) Jovan Akhal Raksi 
        7) Adinata Ailen Caesar
        8) Adelardo Cetta Early 
        9) Kin Dhananjaya

3.1.5 Penokohan: Penokohan adalah penyajian watak-watak tokoh dalam cerita tersebut.

Andhika Sastra Gautama
Periang
Dalam hatinya bernyanyi riang, kontras dengan suara gemuruh yang menggelegar sejak subuh tadi. (halaman 19)
Tidak tega 
Sastra bukan tipikal laki-laki yang akan membiarkan seorang Perempuan tersakiti dan menangis. (halaman 21)
Penyayang
Sastra hanya menunduk, sibuk mengusap-usap lengan Sahara. Sementara wajahnya sendiri juga bonyok. (halaman 110)
Emosional 
Sastra yang melihat bagaimana Sahara meringis saar Jefery menarik lengannya, darah rendah Sasta langsung berubah jadi darah tinggi. (halaman 105)

Sahara
Mudah menangis 
Sahara menangis malam itu, kecewa dengan dirinya sendiri. “Sastra, maafin aku…” di Tengah tangis pilunya malam itu. (halaman 45)
Peduli
Sahara betulan khawatir. Bagaimana juga Sastra pacarnya, dan di tidak punya alasan untuk tidak peduli dan cemas pada laki-laki itu. (halaman 31)
Menghargai orang lain
Karena ia piker, seandainya Sastra tau kalua ia Bersama jef pada saat itu, sastra pasti bakalan sedih. (halaman 149)

Adhitama Abelvan 
Bijaksana 
"Laki-laki itu harus punya rasa tanggung jawab. Bahkan dari hal yang paling sepele ngehabisin makanan yang sudah kita taruh dipiring. Bilang maal juga kalau kita punya salah. Bukan karena yang paling besar, lantas akan selalu benar. Ya minimal tanggung jawab sama diri sendin." (halaman 149)

Eros Bratadikara Nayaka
Bijaksana 
"Kalian apa ngga kisian sama Mama? Lihat sekarangvertigonya kambuh lagi gara-gara Sastra berantem Kakak ngga masalah kalian jago bela diri, justru itu bagus. Tapi dimanfaatkan sesuai tempatnya. Jangan disalahgunakan buat bonyokin anak orang cuma gara-gara kekesalan kalian." (Halaman 125)

Jovan Akhal Raksi
Peduli 
Mas Jovan eming sesat. Tapi sesesat apapun Mas Jovan. Sastra tahu, Mas Joyan selalu peduli dengannya. (halaman 36)

Jefery
Pemaksa
".. Aku tahu kamu masih simpan semua foto-foto kita.bahkan aku juea tahu kalau diam-diam kamu masih stalk akuSahara, aku tahu semuanya. Jadi. płeure.kasih akukesempatan buat.." (halaman 104)
Pedendam
Dan Jef berlalu begitu suja setelah meninggalkan peringatanyang malah terdengar seperti lelucon di telinga Sastra. (halaman 108)
Tengil
"Kalau lo kalah, cewek lo huat gua, gimana Ucap Jefery. Sahara berhasil di buat lak percaya dengan penawaran Jef. (halaman 106)

3.1.6 Latar: Latar atau tempat terjadinya peristiwa dalam sebuah cerita terbagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, latar waktu dan latar suasana.

Latar Tempat: adalah latar tempat menunjukkan lokasi terjadinya suatu peristiwa.

Sekolah 
"Beberapa detik setelahnya, bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar 
hari itu berdering seantero sekolah. Di bangku paling pojok belakang, Cetta buru-buru mengemasi barang barangnya." ( halaman 62)

Kelas 
"Kelas masih kosong saat Sastra tiba di sana. Jelas, kan sudah dibilang kalau dia sengaja datang lebih awal." ( halaman 21)

Teras rumah
"Hal yang sama seperti yang pernah di katakan Bapak di suatu sore di teras rumah." (Halaman 14)

Klinik
"Dugaan Eros sejak awal ternyata terbukti. Dokter bilang kalau Sastra terkena radang." (Halaman 40)

Depan Pintu Café
"Mereka bertemu di depan pintu cafe tanpa di sengaja dan sekarang teknisnya mereka seperti datang berdua." ( halaman 96)

Kontrakan Sahara
"Sesampainya di kontakan Sahara, gerimis perlahan-lahan berubah menjadi hujan." (Halaman 228)

Jalan Lalu Lintas
"Bahkan saat lampu traffic menyala hijau, dunia seakan-akan merestui segenap perasaannya pada Sahara kasihku." (Halaman 229)

Ruang Icu Rumah Sakit 
"Ruang ICU tertutup rapat. Pintunya yang kokoh seakan-akan menjadi pembatas antara dua dunia." (Halaman 244)

Latar waktu: Latar Waktu adalah salah satu macam-macam latar cerita yang harus dimulai dalam sebuah karya sastra. Sesuai deagan namanya yakni waktu, maka di latar ini menggambarkan waktu dimana peristiwa di dalam cerita tersebut berlangsung.

Pagi
 "Jarang sekali Jaya bias bangun pagi-pagi, tapi hari ini dia bangun lebih awal." (Halaman 288) 

Siang
"Siang itu langit nampak temaram, sebab mendung tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan." (Halaman 46) 
"Kelas kimia berakhir di rabu siang yang terik." ( halaman 62) 
"Saat itu langit membiru, cerah di sinari matahari menjelang sore saat anak-anak jurusan musik terlihat bergotong-royong."  

Sore
"Setengah 3 sore, akhirnya anak-anak Pak Suyadi bisa terbebas dari hawa dingin kantor BK." (Halaman 60) 
"Sore itu, Sastra benar-benar menarik napas panjang saat Cetta berdiri di depan pintu berkedip menatapnya." (Halaman 119) 

Malam
"Jam 9 teng, Sahara membuka pintu kamar kontrakannnya dengan sisa tenaga yang ia punya." (Halaman 43) 
"Malam itu halaman rumah nampak ramai. Nana masih berusaha berlari kemana saja untuk menghindari kedua saudaranya." ( halaman 93) 
"Malam itu, tidak ada suara televisi seperti biasanya. Yang ada hanya sunyi." (halaman 123)
"Tengah malam, Sahara duduk termangu di ruang tengah kontrakannya. Menatap kosong jam tangan milik Sastra yang entah sejak kapan tertinggal disana." 

Latar Suasana: Latar suasana adalah salah satu macam-macam latar cerita yang menunjukkan bagaimana kondisi batin tokoh atau pelaku di dalam cerita.

Sedih 
"Seandainya Sastra tahu bahwa itu memang kesempatan terakhirnya duduk berdua bersama Bapak, Sastra akan membiarkan dirinya duduk di sana lebih lama. "
"Seandainya waktu bisa ia putar tepat di pertemuan pertama mereka, Sahara ingin melewati tiga tahun itu dengan bahagia bersama Sastra."(hal 246)
"Rasanya Jovan sudah tidak sanggup lagi menahan semua sedih yang ia tutup-tutupi. Kini, ia membiarkan lututnya beradu dengan lantai yang dingin. Disertai tangis nanar yang mampu didengar orang-orang di rumah. Nadanya teramat pilu. Menggambarkan sekali bahwa Jovan begitu kehilangan sosok Sastra." (hal 237)

Senang 
"Laki-laki itu melenggang dengan langkah ringan sambil bersiul-siul." (Halaman 19) 

Menegangkan 
"Kedua matanya melayangkan kebencian yang kentara. Seandainya tatapan Jef dan Sastra adalah pucuk belati yang beracun, mungkin keduanya sudah tewas sejak bermenit-menit yang lalu." (Halaman 106) 

Menegangkan dan sedih 
"Mama menurut untuk duduk dalam kegamangan. Sementara genggaman tangan Jovan seakan akan berbisik, bahwa mereka harus menerima atas segala hal buruk yang mungkin saja terjadi." (hal 220)

3.1.7 Sudut Pandang: Sudut pandang dalam novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. 

            "Kali ini Sastra tidak ingin menimpali kata-kata Eros. Sebab semakin panjang Eros menceramahinya, semakin ia merasa bahwa apa yang ia lakukan memang salah dan kata-kata Eros seratus persen benar. Setelah tindakannya tadi, Jeffery pasti langsung menyusun siasat untuk balas dendam dengannya." (Halaman 124) 

"Bu Nia tergagap seketika. Tanpa pikir panjang perempuan berjilbab krem itu berlari menuju tempat yang di sebutkan oleh Jaya." ( halaman 63) 

"Cetta langsung meringis saat Karina menyentuhkan jemarinya pada ujung mata Cetta yang masih membiru." (Halaman 63)

3.1.8 Amanat: Amanat atau pesan merupakan pelajaran yang dapat diambil dari sebuah cerita.
Adapun pesan atau amanat yang terdapat dalam novel “Tulisan Sastra” yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran dalam hidup ini adalah hargailah setiap orang yang ada bersama kita sekarang. Berikanlah perhatian kepada orang yang memberikan perhatian juga kepada kita. Jangan terpaku dengan masa lalu. Yang sudah berlalu memang seharusnya berlalu, tak akan bisa diulang bahkan untuk sedetik pun. 

            “Sastra memang bersamanya hampir 3 tahun lamanya, tapi kenangan indah itu bahkan baru ia rangkai beberapa bulan belakangan. Sebelum itu, Sahara hanya melihat Sastra  sebagai bagian hidup yang tidak bermakna apa-apa. Sahara membiarkan laki-laki itu berjalan memasuki hidupnya semata-mata untuk melupakan Jeffery. Seandainya waktu bisa ia putar tepat di pertemuan pertama mereka, Sahara ingin melewati tiga tahun itu dengan bahagia dengan Sastra. Seandainya ia punya satu hari untuk itu.” (hal 246)

            Pelajaran lain yang dapat kita ambil adalah bahwa setiap kehilangan pasti akan memberikan bekas luka yang mendalam bahkan sulit untuk disembuhkan. Sekedar melupakannya saja mungkin sangat sulit. Siapapun orangnya yang menemui kehilangan pasti memiliki kehidupan yang sulit, bahkan bisa jadi orang yang ditinggalkan sedang mengalami titik terendah dalam hidupnya.

            “Ini bukan pertama kalinya Mama merasakan kehilangan. Tapi belum sembuh pedih yang Mama rasakan, kini Mama harus kehilangan lagi. Mama lupa tidak pernah menenyakan pada Sastra, apakah anaknya itu baik-baik saja atau tidak?. Andai ia bisa menggantikan Sastra…Mama selalu berpikir begitu. Dan kini, bagaimana caranya untuk mengatakan pada Sastra bahwa mama akan selalu menyayangi Sastra. Sampai kapan pun…” (hal 242)

            “Tama tidak menduga, bahwa kepulangannya hanya untuk menguburkan Sastra di samping makam Bapak. Kini yang terasa hanya kekosongan sebab Sastra sudah pergi untuk selama-lamanya.”(hal 232)

            “Eros tidak tahu harus bagaimana. Sejatinya, mengikhlaskan tidak secepat dan semudah yang diharapkan. Eros tentu sangat kehilangan. Sastra pergi terlalu mendadak. Dan kini, tidak ada yang bisa ia lakukan selain…berdoa.” (hal 239)

            “Tiba-tiba Jovan dilanda rindu berat. Sastra itu adik yang paling menyebalkan selain Jaya. Dengan langkah gontai Jovan membuka pintu lemari. Hanya untuk membuat dadanya semakin sesak karena melihat baju-baju  Sastra yang menggantung disana. Ditinggal pemiliknya pergi untuk selama-lamanya” (hal 237)

“Tapi sayangnya, Nana juga tidak tahu. Bagaimana hari-harinya akan berlalu tanpa kehadiran Sastra.” (hal 230)

            “Cetta belum benar-benar merelakan kepergian Sastra untuk selama-lamanya. Tapi, tidak peduli seberapa besar rasa sedih yang mendera dadanya….Cetta tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab katanya, takdir adalah takdir.” (hal 240)

            “Nggak mau. Habis ini Jaya gak bisa peluk Abang lagi, Mas.” Jaya bukan hanya kehilangan seorang Kakak, tapi ia juga kehilangan seorang teman. Ia baru saja kehilangan salah satu tempatnya bersandar.” (hal 230)

3.2 Unsur Instrinsik Novel

3.2.1 Nilai Sosial: Nilai sosial adalah nilai dalam cerpen/novel yang berhubungan dengan masalah sosial dan hubungan manusia dengan masyarakat (interaksi sosial antar-manusia).  

a. Jangan menyelesaikan masalah dengan memakai kekerasan
“Apa semua masalah harus diselesaikan dengan cara kekerasan?. Mengalah ngga akan bikin kamu jadi pengecut, Sastra. Kekerasan bukan cuma bikin orang lain rugi, tapi kamu juga.” (halaman 124)

3.2.2 Nilai Religius: Nilai religius adalah nilai dalam cerpen/novel yang berhubungan dengan kepercayaan atau ajaran agama tertentu.

a. Nilai keagamaan adalah gabungan dari beberapa sistem sosial yang mengatur tata perilaku, kepercayaan, kaidah sosial dalam menjalani beragam contoh hubungan sosial antara sesama mahluk ciptaan-Nya, serta tata cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. 
"Sejak dini, anak-anak Mama selalu diajarkan untuk menghormati orang-orang yang lebih tua. Cara sederhananya seperti ini. Tidak peduli meskipun mereka laki-laki dan usianya sudah bukan lagi anak-anak, kalau mau pergi wajib hukumnya cium tangan." (halaman 18)

b. Nilai Moral adalah nilai dalam cerpen/novel yang berhubungan dengan perangai, budi pekerti, atau tingkah laku manusia terhadap sesamanya.

Jadi diri sendiri 
“Kalau suatu saat kamu bisa jadi dokter, Alhamdulillah. Berarti itu rejeki kamu. Tapi kalau kamu ngga bisa jadi dokter, kamu bisa jadi orang hebat dengan cara kamu sendiri. Jadi orang hebat itu ngga selalu harus ‘wah’, cukup jadi diri kamu sendiri, itu sudah hebat. (halaman 142) 
Berani berkata jujur
"Jangan takut untuk speak up jika kamu merasa kamu perlu membicarakan itu. Kebenaran selamanya akan menjadi kebenaran. Soal menang atau kalah, itu urusan belakang. Hal terpenting adalah, kamu berani berkata jujur. Sekalipun kamu kalah, pada kenyataannya kamu menang." (halaman 59) 
Menghormati orang tua  
"Cetta yang semula sudah melenggang ke arah pintu praktis putar balik. Dia menyengir pada Sastra yang sudah geleng-geleng kepala. “Hehe, lupa” katanya, lantas menyalami Sastra sama halnya dengan yang ia lakukan pada Mama." (halaman 18)


4. Kesimpulan

            Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Struktur dari novel Tulisan Sastra adalah : (A) Tema novel ini bertema tentang percintaan. Namun terdapat pula subsub tema, seperti kekeluargaan dan persahabatan. (B) Penokohan cerpen ini terdiri dari beberapa tokoh yang membangun cerita. Terdapat sembilan tokoh yang ditampilkan. Tokoh tersebut terdiri dari tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama dalam novel ini adalah Sastra dan Sahara sedangkan tokoh tambahannya adalah Tama, Eros, Jovan, Adinta, Cetta, Jaya, Jeffery, Mama. Penokohan dalam cerpen ini diceritakan begitu lengkap, detail, dan menyeluruh sehingga karakter yang ditampilkan begitu kuat dan utuh. (C) Latar / Setting Latar dalam novel Tulisan Sastra dibagi menjadi 1) Latar Tempat Terdapat beberapa tempat yang menjadi latarnya, antara lain : sekolah, teras rumah, kelas, klinik, depan pintu café, kontrakan sahara, jalan lalu lintas, ruang icu rumah sakit. 2) Latar Waktu Penggambaran waktu yang dipakai dalam novel ini berupa pagi, siang, sore, malam. 3) Latar Suasana yang dipakai adalah sedih, senang, dan menegangkan. (D) Alur yang digunakan adalah alur maju mundur. (E) Amanat yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi pembaca adalah hargailah setiap orang yang ada bersama kita sekarang. Berikanlah perhatian kepada orang yang memberikan perhatian juga kepada kita. Jangan terpaku dengan masa lalu. Yang sudah berlalu memang seharusnya berlalu, tak akan bisa diulang bahkan untuk sedetik pun. Dan juga setiap kehilangan pasti akan memberikan bekas luka yang mendalam bahkan sulit untuk disembuhkan. Sekedar melupakannya saja mungkin sangat sulit. Siapapun orangnya yang menemui kehilangan pasti memiliki kehidupan yang sulit, bahkan bisa jadi orang yang ditinggalkan sedang mengalami titik terendah dalam hidupnya.

5. Daftar Pustaka

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 

Suaka, Nyoman. 2014. Analisi Sastra Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Sehandi ,Yohanes. 2014. Mengenal 25 Teori Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Tenderlova. 2020. Tulisan Sastra. Cirebon: LovRinz Publishing

 

 

 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS UNSUR INSTRINSIK DAN EKSTRINSIK TEKS CERPEN “SURAT UNTUK EMAK” KARYA E ROKAJAT ASURA Oleh: Ameliya Ditasya (23016135) Email: Ameliya.1425@gmail.com

Nilai Dalam Novel Karya Sastra Azhara Natasya: Retak