Nilai Dalam Novel Karya Sastra Tenderlova: Narasi
Nama Saya Ameliya Ditasya dengan NIM 23016135, saya akan menyampaikan beberapa pesan atau nilai yang saya dapat dari membaca novel karya sastra dari Tenderlova yang berjudul “Narasi”
Novel ini menceritakan tentang Adinata yang mampu berdamai dengan luka yang ia dapatkan di masa lalu. Setelah meninggalnya Sastra (kakak), Adinata merasakan kekosongan dalam hatinya. Tak hanya itu, saat dirinya masih kesulitan merelakan Sastra, ia juga harus melepaskan Gayatri karena cintanya tak direstui Ibu sang puan. Meskipun begitu, semua bukanlah akhir dari dunia Adinata. Nyatanya bumi masih berputar, kendaraan masih berlalu-lalang, dan waktu masih berlalu. Manusia akan selalu mengalami sebuah perpisahan, untuk bisa menghadapinya kita perlu mengikhlaskan dan menerima segala kesedihan dengan hati yang lapang.
Sinopsis:
Nyatanya semua ingatan masih tentang 'dia.' Dia yang tidak suka hujan, dia yang enggan memakai jas hujan pink milik adiknya, dia yang tak keberatan menghabiskan es kiko rasa anggur, dan dia yang sangat mencintai dirinya sendiri lebih dari apapun. Juga tentang kenapa harus selalu Adinata, kenapa harus Sahara orangnya padahal sosok lebih baik seperti Gayatri atau Malika pun ada, kenapa harus ada Bumi, Rumpi, dan Magandhi, dan derasnya pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul dalam benak Adinata. Semestinya Adinata paham alasan dibalik hal-hal itu jauh lebih cepat. Sehingga tak ada ruang kehampaan, tak ada alasan memaki diri sebab merasa kewalahan, hingga tak akan ada istilah menyentuh kembali luka yang sepenuhnya belum mengering.
Ironi memang, semesta memainkan drama sedemikian rupa dengan pilihan ending skenario yang paling memilukan. Adinata merasa, selalu ada yang melesat setiap kali pagi menghilang. Bukan butir embun yang menggumpal di lengkung dedaunan, melainkan wajah 'dia' yang selalu hadir lewat mimpi dari dimensi yang berbeda. Layaknya kopi yang sempurna karena rasa pahitnya, begitulah pahitnya kehidupan di mata seorang Adinata karena kehilangan Abang tercinta.
Pesan dan nilai-nilai yang dapat diambil:
1. Konflik yang diangkat oleh penulis dekat dengan kehidupan kita. Misalnya tentang friendship,susahnya mencari pekerjaan, caranya bangkit dari kegagalan, stereotip-stereotip tentang calon pendamping hidup, toxic parent, proses pencarian jati diri hingga mencintai diri sendiri, pentingnya sebuah kepedulian, dan rumitnya kisah cinta yang tak direstui.
“Cari pekerjaan yang kamu senangi. Maka seumur hidup, kamu hanya akan dibayar untuk bersenang-senang.” (Bapak, hlm:7)
“Menghindari sebuah kegagalan itu omong kosong, Van. Bahkan kalau kamu mencapai titik berhasil, bisa jadi kamu akan gagal lagi. Gagal untuk hal lain.” (Malika, hlm:38)
2. Petuah-petuah dari Pak Suyadi akan selalu jadi favorit, nggak hanya petuah Bapak, pesan-pesan yang disampaikan oleh tokoh lainnya juga tak kalah inspiratif.
“Semua orang gagal dengan cara dan takaran yang berbeda. Kita semua menangis. Waktu dan rasa sakitnya saja yang nggak sama. Kamu nggak perlu khawatir, kamu nggak sendirian. Hari ini, ada bapak-bapak yang menangis lebih hebat dari kamu karena nggak bisa bawa pulang nasi bungkus buat makan malam dia dan keluarganya. Hari ini, ada laki-laki yang pulang dengan meratap karena perasaannya tidak diterima sebagaimana mestinya.” (Bapak, hlm:39)
“Kalau tahu salah itu minta maaf, terus jangan diulangi lagi. Bukan cari pembenaran.” (Bang Tama, hlm:185)
“Yang perlu ditinggikan itu bukan tubuh, tapi perasaan simpati dan empati kita sebagai manusia.” (Kak Ros, hlm:47)
“Nggak ada istilah rugi untuk berbuat baik, Na. Ingat kalau kita punya Tuhan yang siap mengcover segala hal baik yang pernah kita perbuat, dengan sesuatu yang jauh lebih baik lagi.” (Mas Jovan, hlm:230)
“Buat Abang, cukup kita jadi seperti ini. Menikmati apa yang kita punya semampu kita. Cukup karena muluk pasti membutakan setiap pasang mata.” (Bang Sastra, hlm:29)
“Semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi kamu terlalu mendikte, terlalu keras mempertahankan pola pikirmu itu. Bahkan burung yang kamu kasih makan nasi selama berbulan-bulan pun pasti akan mati. Padahal kamu cuma mau dia kenyang. Kamu nggak tahu bahwa selama ini makanan yang kamu kasih salah.” (Pak Burhan, hlm:220).
“Nangis sampai kamu nggak bisa mendengar suara tangismu sendiri. Kamu boleh nangis seolah-olah itu adalah hari terakhir kamu bisa nangis. Tapi hanya hari itu aja, Na. Hanya hari itu kamu boleh terpuruk. Detik setelah tangismu selesai, semua kehidupanmu harus tetap berlanjut. Jantungmu harus tetap berdetak dan hatimu harus tetap mencintai. Dan semua mimpi-mimpi yang kamu punya selama ini, harus tetap berjalan.” (Sastra, hlm:263)
3. Penulis juga menyuguhkan diksi dan syair-syair klasik indah. Misalnya, di halaman 70.
“Cinta itu diisi oleh lembah-lembah curam dan pegunungan. Terjal adalah syair di setiap perjalanan yang ditempuh. Sulit adalah cumbu rayu yang tak terelakkan. Tapi sayup-sayup cengkrama burung di langit biru menjadi teman yang paling setia. Daki gunung, turuni lembah. Jalani semampunya. Jika lelah, pandangi burung-burung yang terkepak sayapnya di udara; segalanya akan sampai.” (Hlm:70)
4. Penguatan karakter setiap tokoh diperjelas dengan keyakinan yang dianut masing-masing tokohnya. Dengan adanya penjelasan tentang keyakinan ini, novelnya jauh lebih hidup dan menggambarkan dengan jelas bahwa latarnya terjadi di Indonesia. Karena kebetulan mayoritas penduduk Indonesia punya keyakinan yang sama dengan keluarga Pak Suyadi ini.
“Di dalam surah Al-Insyirah bahkan udah jelas-jelas ada, 'sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan' ditulis dengan tegas sampai dua kali.” (Tama, hlm:226)
Sebenarnya, tentang mencintai diri sendiri ini lebih erat kaitannya dengan sosok Sastra. Bahkan password laptop Sastra aja juga apresiasi untuk dirinya sendiri. Adinata memperkenalkan sosok Abangnya itu sebagai seseorang yang begitu mencintai dirinya sendiri lebih dari apapun.
Dengan adanya Bumi, Rumpi, dan Magandhi pun cukup menjadi bukti bahwa Sastra merupakan orang yang punya self love bagus. Dia mampu menyeimbangkan hidupnya dan membuat hidupnya bahagia dengan melakukan kegiatan yang dia sukai, misalnya, berbuat baik pada sesama, bermain musik, dan menikmati waktu dengan orang yang dia kasihi.
Komentar
Posting Komentar