Nilai Dalam Novel karya sastra wulan Nurmalia: 7 Prajurit Bapak
Nama saya Ameliya Ditasya dengan NIM 23016135, saya akan menyampaikan beberapa pesan atau nilai yang saya dapat dari membaca novel karya sastra dari Wulan Nurmalia yang berjudul “7 Prajurit Bapak”
Novel 7 prajurit bapak menceritakan 7 anak laki-laki yang merupakan anak dari seorang pensiunan tentara bernama Pak Cahyo.
Dava Bahari, merupakan si sulung yang sekarang bekerja menjadi seorang pelaut. Bapak, dulu sempat menentang keinginan Dava untuk menjadi seorang pelaut, karena bapak ingin Dava menjadi tentara, namun berkat mama yang dapat meyakinkan Bapak “Bahwa setiap anak memiliki mimpinya masing-masing”. Akhirya Dava diberi izin untuk melanjutkan mimpinya.
Anak kedua, Rendi Firmansyah. Pupus sudah harapan bapak menjadikan Rendi sebagai seorang tentara, karena Rendi memiliki tubuh yang mungil dan sejak kecil Rendi gampang sakit. Dulu sewaktu kuliah, Rendi mengambil jurusan Ekonomi sekarang pun dia bekerja menjadi seorang pegawai Bank.
Anak katiga, Raga Iswana. Laki-laki yang memiliki perawakan tegap, tinggi, dan tampan ini selalu berlatih fisik dari pagi hingga senja tiba. Bapak sangat percaya jika Raga dapat lolos seleksi menjadi calon tentara, namun dipertengahan jalan Raga membelotkan niatnya dan malah mendaftarkan diri seorang Polisi. Tentu, bapak marah dengan Raga, saat tau Raga lulus menjadi polisi bukan tentara, namun lama kelamaan bapak dapat menerimanya.
Setelah anak pertama, kedua, dan ketiga yang tak dapat memenuhi keinginan bapak menjadi seorang tentara. Sekarang yang menjadi tumpuan bapak adalah anak keempatnya bernama Arma Yoga. Namun, Yoga tak masuk dalam kriteria manjadi seorang abdi negara. Dulu sewaktu akan mendaftar menjadi tentara, Yoga yang tak ingin pun, dengan sengaja menempelkan kaiknya pada kenalpot motor tetangga dan sampai sekarang bekas luka itu akan terkenang dan memiliki cerita. Yoga sangat
suka menulis, mimpinya adalah menjadi seorang penulis yang dapat dikenang oleh para pembacanya. Makanya, dia sekarang kuliah di jurusan sastra.
Untuk kesekian kalinya, harapan bapak dipatahkan karena anak keempatnya Iqbal, yang tak ingin menjadi abdi negara. Iqbal merupakan sosok yang lemah lembut dari keenam saudara lainnya. Iqbal bercita-cita menjadi seorang dokter, namun Iqbal tak lolos saat SNMPTN dan sekarang kuliah di jurusan Keperawatan. Yang terakhir ada si bungsu Rai dan Putra. Mereka berdua, masih duduk di bangku SMA dan menjadi harapan Bapak berikutnya, untuk menjadikan keduanya sebagai seorang tentara. Dibanding Rai, Putra yang lebih manja dan sering menangis karena dijahili oleh keenam
Abangnya.
Setiapa pagi bunyi peluit akan terdengar hingga memekakan telinga, bapak akan mengajak ketujuh prajuritnya untuk berlari mengelilingi komplek dan pulangnya Mama sudah menyiapakan minuman dan makanan ringan untuk melepas dahaga. Bapak merupakan sosok yang dijadikan panutan oleh ketujuh anaknya, bapak sangat berwibawa walapun usianya kini sudah tak muda. Bapak, selalu tenang dalam mengatasi segala permasalah yang ada.
Jika ditanya perempuan mana yang paling Yoga cinta tentu yang pertama dia akan menjawab mama dan yang kedua adalah Mei Liana. Gadis yang akrab dipanggil Lia itu merupakan pujaan hati Arma Yoga. Jika ditanya apa yang Yoga sukai dari Lia, tentu akan banyak jawabannya. Lia berbeda, Lia penyemangatnya, dan Yoga candu akan Lia. Hanya Lia, yang dengan tulus mendukung mimpi Yoga, memang kelurganya mendukung secara material tetapi tak dengan moral. Yoga butuh dukungan itu, namun dia malah mendapatkannya dari Lia.Tentu, Yoga banyak mendapat cibiran. Katanya mau jadi apa kamu, mimpi kok jadi penulis. Tidak sesuai dengan image keluarga, kebanyakan halu kamu Yog. Yoga tau, bapak tak pernah memaksakan anak-anaknya untuk menjadi tentara, namun jika dilihat bapak kecewa, karena dari kelima anaknya tak satpun yang dapat mengikuti jejak bapak menjadi tentara. Menjadi abdi negara, seperti sudah tradisi turun temurun dari keluarga. Sampai-sampai saat acara keluarga sering kali bapak, mama atau abang banyak mendapat cibiran. Hingga bapak pergi tak satupun yang dapat memenuhi keinginan bapak menjadikan anaknya sebagai abdi negra. Ya, bapak pergi. Meninggalkan ketujuh prajuritnya yang kini sedang manangis memintanya untuk kembali, kini pilar mereka sudah pergi, tertimbun oleh gelapnya bumi. Mereka saling bahu membahu untuk menguatkan diri, karena sekarang ada mama yang harus mereka jaga. Bang Dava dan Mas Rendi kini menggantikan sosok bapak sebagai tulang punggung keluarga.
Begitu bapak pergi banyak masalah datang bertubi-tubi, dari masalah keuangan yang merosot, hingga yang paling mengagetkan yaitu dalang dari orang yang mebunuh bapak, yaitu orang tua dari gadis yang Yoga cintai. Mama dan abang tentu melarang Yoga utuk menemui Lia lagi, meraka tak merestui hubungan Yoga dengan Lia, sungguh ini sangat menyesakan bagi Yoga. Yoga bingung harus memilih keluarga atau cinta. Sekarang, bapak sudah tidak ada, kemana Yoga harus meminta pendapat, dengan mantap Yoga memutuskan tetap akan mempertahankan Lia dan tetap menjadi garda terdepan untuk kelurganya.
Hingga suatu hari kekacauan itu semakin menjadi, Yoga hendak pergi menolong Lia yang sedang dipukuli oleh ayah Lia. Namun, naas nasib baik tak berpihak kepada Yoga, kedua adik bungsunya mengikuti Yoga dan kini Putra menjadi korban kebringasan ayah Lia. Yoga sudah siap di hajar oleh Bang Dava, Mas Rendi, dan Bang Raga ini memang salahnya yang tak dapat menjaga si bungsu dengan baik. Sejak saat itu Yoga tak pernah bertemu lagi dengan Lia.
Sore itu Yoga mengantar Putra untuk mencari jajan di alun-alun. Putra sudah dinyatakan sembuh dan bisa berjalan lagi. Namun, tak disangka, Yoga bertemu dengan Lia di sana. Yoga banyak berpikir mengenai ini, dulu bapak pernah berkata “Pilih satu, jangan serakah mau keduanya. Karena, kamu tak dapat menggenggam dau hal sekaligus.” Yoga memilih menyudahi hubungannya dengan Lia, keluarganya lebih penting, terutama mama yang harus Yoga jamin kebahagiaannya.Yoga, mulai membiasakan hidup tanpa bergantung pada sosok Lia. Sekarang Yoga akan fokus pada keluarga dan mimpinya menjadi seorang penulis. Yoga akan membuktikan bahwa mimpinya bukan hal yang memalukan atau salah. Yoga sangat berterim kasih kepada Gisel, perempuan yang belum Yoga kenal lama ini, dapat membantu Yoga merevisi tulisan dalam cerita Yoga. Kala itu, Yoga mengikuti Lomba menulis Novel terbaik dan siapa sangka Yoga keluar menjadi pemenang terbaiknya dengan novel berjudul “7 Prajurit Bapak”. Sunggh Yoga sangat senang dapat membuktikan bahwa mimpinya bukan halu semata, dia sekarang menjadi seorang penulis.
Malam itu, Yoga akan menemui Gisel untuk berterima ksih karena telah membantu dia selama ini. Namun, takdir berkata lain, Yoga tertabrak oleh bus yang melaju sangat kencang, Raga dan Iqbal melihat itu dengan jelas, Raga tak dapat berkata apapun lagi sedangkan Iqbal bergetar hebat, Yoga tergeletak bersimbuh darah dan dikerubungi oleh warga. Dalam semalam semua berubah, kacau sudah. Mama, Iqbal, Rai, dan Putra menangis. Dava, Rendi, dan Raga termenung di depan Ruang oprasi. Sudah beberapa hari ini, Yoga belum sadarkan diri. Bak disambar petir di siang bolong dokter menyataka Yoga mati otak atau sudah meninggal, Yoga masih bisa bernafas karena perelatan medis yang masih melekat pada tubuhnya.Penengah di keluarga ini pun ikut pergi menyusul bapak, sungguh hancur sudah hati mereka. Banyak kata belasungkawa dan tabah yg mereka dapati, namun itu tak dapat membuat Yoga kembali. Bahkan mimpi yang selama ini Yoga dambakan belum sempat dia lihat, buku itu belum sempat Yoga peluk.
Tak dapat dipungkiri kehilangan Bapak saja masih membaksa dan luka itu belum sepenuhnya sembuh, tetapi kini Yoga lebih memilih pergi.Kehidupan akan terus berjalan, yang pergi tak akan kembali dan yang ditinggal pergi akan akan merasakn luka yang akan terus membekas di hati. Kini Bang Dava sudah memiliki anak bersama Mbak Wulan dan dua bungsu juga sudah dewasa Rai menjadi seorang pilot dan Putra menjadi
tentara.
Setelah saya membaca novel ini saya merasa banyak nilai-nilai yang dapat di ambil dari novel ini,
seperti:
1. Tolong menolong
"Ya udah. berapa?" Meskipun sepertinya terpaksa, Yoga membayarkan motor milik adiknya itu. (hal. 18)
Nilai suka menolong yang dilakukan oleh Yoga terhadap adiknya muncul dari kesadaran hatinya, apalagi dalam posisi tersebut adiknya sangat membutuhan bantuan. Dengan demikian pertolongan yang diberikan yoga kepada adiknya dapat dikatakan sebagai nila suka menolong.
2. Nilai Kasih sayang
“Berhenti, Pak! Bapak boleh memarahi dia, tapi jangan memukulnya!” Teriak mama. (Hal. 82)
Nilai kasih sayang yang dilakukan oleh Mama. Yang mencegah bapak untuk berlaku kasar kepada anaknya, dengan meneriaki bapak untuk berhenti memukul anaknya, merupakan bentuk kasih sayang seorang ibu yang tidak mau melihat anaknya tersakiti, meskipun anaknya berbuat salah.
“Dia anak saya! Saya sudah membesarkan dia selama 23 tahun! dan saya bisa tau dia berbohong atau tidak hanya dengan menatap matanya!”
Nilai kasih sayang yang dilakukan oleh mama, dalam hal ini membela anaknya, yang dengan naluri ke ibu-annya, dapat mengetahui kondisi, perasaan, atau sikap anaknya. Terkait dengan itu, yang dilakukan mama adalah ingin mempertegas tentang konsisi anaknya yang tidak melalukan perbuatan yang disangkakan yaitu berbohong. Sehingga oleh mama diperjelas, bahwa anaknya tidak berbohong karena hal itu dapat ia ketahui dengan hanya menatap matanya.
3. Nilai Suka Memberi Nasihat
"Iya, belajar yang rajin, ya. Sudah salaman sama mama? Tanya bapak (Hal. 9).
Nilai suka memberi nasehat yang dilakukan oleh bapak, merupakan suatu sikap perhatian untuk memberikan solusi agar menjadi anak yang pandai, maka haru rajin belajar. Selain itu, hal tersebut juga merupakan bentuk kebaikan yang ditularkan oleh sang ayah agar anaknya dapat memahami nasehat yang disampaikan oleh sang bapak. Bentuk nilai suka memberi nasehat yang dilakukan oleh tokoh bapak.
"Abang, kalau direndahin sama orang, nggak usah dilawan. Karena sudah jelas,sebenarnya orang itulah yang lebih rendah dari abang." Karena bapak percaya, kalau orang berpendidikan, nggak mungkin ngerendahin orang". (Hal. 42)
Pada kutipan di atas, Nampak jelas bahwa nilai suka memberi nasehat yang dilakukan oleh tokoh ayah kepada anaknya yang bernama Yoga bertujuan untuk memberikan solusi kepada Yoga terkait dengan masalah atau kendala yang yoga alami.
4. Nilai Peduli
"Bapak beli banyak sawah, kebun dan kambing itu untuk tabungan anak-anak bapak nanti. Kalau perlu, bisa dijual. Kalaupun tidak, kan, masih berguna juga. Banyak yang terbantu dari sawah, kebun, dan kambing yang bapak beli. Banyak yang bekerja, ikut menikmati hasilnya. Yang untung bukan hanya kita, kan? Secara tidak langsung, kita juga memberi makan pada orang-orang" (hal.6) Bapak Menjawab, "Yoga bapak ini punya 7 tanggung jawab besar. Bapak harus bertanggung jawab dengan masa depan anak-anak bapak. Bisa saja bapak beli mobil, tapi apa kita perlu?" (Hal. 6) "Ini untuk jajan kalian. Jadi, selama satu minggu jangan minta ke mama, ya?" (hal. 15)
Nilai peduli yang ditunjukan tokoh ayah, pada kutipan novel di atas, terlihat dari sikap keberpihakan bapak kepada anak- anaknya. Hal itu ia lakukan dengan membeli sawah, dan kebun serta hewan peliharaan dengan tujuan untuk investasi yang mana hal itu iya lakukan, jika sewaktu-waktu ada kebutuhan maka dapat dijual untuk pemenuhan kebutuhan. Selain itu, bentuk kepedulian lain yang dilakukan oleh tokoh bapak, bertanggung jawab dengan masa depan anak-anaknya. Dengan lebih memikirkan apa-apa yang dibutuhkan anak- anaknya bukan sekedar yang diinginkan anak-anaknya.
5. Nilai Mendoakan Sesama
“Yang bisa bapak dan mama lakukan di sini hanya mendoakan semoga anak-anak bapa mama sehat-sehat. Iya kan. Ma?” Mama mengangguk (Hal. 12)
Nilai suka mendoakan yang dilakukan oleh tokoh bapak dan mama, merupakan prilaku yang terpuji, karena secara tidak langsung memberikan kekuatan kepada anak-anaknya. Hal tersebut terlihat dari sikap tokoh bapak dan mama yang selalu mendoakan anak-anaknya semoga diberikan kesehatan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Komentar
Posting Komentar