Nilai Dalam Cerpen Karya Sastra Slamet Riadi: Sore Bersama Ibu

Nama Saya Ameliya Ditasya dengan NIM 23016135, saya akan menyampaikan beberapa pesan atau nilai yang saya dapat dari membaca cerpen karya sastra dari Slamet Riadi yang berjudul “Sore Bersama Ibu”

Cerpen ini menceritakan tentang kehidupan seorang ibu dan anak semata wayangnya. Ibu sudah menikah sebanyak tiga kali, pernikahan-pernikahan itu tidak berjalan baik. Pernikahan pertamanya yang melahirkan anak perempuan semata wayangnya yang kini bersamanya, pernikahan pertamanya kandas dikarenakan Perempuan yang mengaku memiliki anak dari suaminya dan mengancam akan membunuh dirinya dan anaknya jika suami ibu tidak mau bertanggung jawab. Pernikahan kedua, dengan seorang juragan besi yang ternyata sering bersikap kasar dan membawa kabur semua uang dan emas-emas ibu dan meninggalkan hutang. Pernikahan terakhir dengan seorang yang pendiam dan dia yang paling baik, hobinya cuman memberi makan burung peliharaannya. Di pernikahan ketiga ini ibu ditinggalkan karena bapak lebih dahulu pergi karena serangan jantung. Kegagalan dalam rumah tangga ibu membuat trauma bagi anak perempuannya dan ia berkata bahwa ia enggan untuk menikah. Hingga suatu saat di sore hari anaknya menemui ibu dan berkata bahwa iya sudah menemukan pipihannya dan berkata bahwa akan segera menemukannya dengan ibu, disana ibu sangat Bahagia, seperti pertama kali ibu melihatku di hari kelahiranku.

Sinopsis:

Ibu mengaduk chai tea hangat yang kubuatkan untuknya. Ibu suka chai tea buatanku. Katanya aku pintar menakar susu, the hitam, jahe, dan rempah-rempah yang pas. Kami duduk di ruang tamu. Sayup-sayup terdengarsuara TV menyiarkan iklan komersial tentang produk kecantikan di ruang sebelah.
"Dulu mereka bilang cantik itu kuning langsat,
sekarang cantik itu putih," ujar Ibu tiba-tiba mengomentari suara iklan di TV.
Aku hanya tertawa kecil.
"Tapi, kamu tetap putri Ibu yang paling cantik Nduk," Ibu melanjutkan sambil meneguk chai teaperlahan.
Aku tersenyum tipis, menatap cengkih dan bungalawang yang mengapung di chai tea-ku. Akumelihat bahwa warna chai tea itu hampir serupadengan kulitku, coklat susu. Mungkin itu maksudIbu mengomentari iklan TV tadi. Tapi pikiranku tidak di situ.
Kami teringat, tenggelam dalam lamunan masing-masing. Aku teringat pernikahan Ibu. Ibu pernah menikah tiga kali. Semuanya kandas, kecuali yang terakhir, Ibu ditinggal mati lebih dulu. Pernikahannya yang pertama seharusnya menjadi sebuah pernikahan yang bahagia. Dari pernikahan itulah lahir aku, putri semata wayangnya. Kata Ibu,saat itu merupakan salah satu hari paling menggembirakan dalam hidupnya. Aku tahu Ibu tidak berbohong. Aku melihat sendiri pada sebuah foto usang. Ibu menatapku penuh kebahagiaan saat aku masih merah dalam gendongan.

Pesan dan nilai-nilai yang dapat di ambil:

1. Kasih sayang seorang ibu
Kelahiran sorang anak merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu. Ibu merawat dan menyayangi anaknya hingga ia bertumbuh dewasa, seperti dalam kutipan cerpen:
"Tapi, kamu tetap putri Ibu yang paling cantik Nduk," Ibu melanjutkan sambil meneguk chai teaperlahan.
“Ibu menatapku penuh kebahagiaan saat aku masih merah dalam gendongan.”
"Kamu pasti lapar, kan, ini barusan Ibu belikan tahu kesukaanmu," ujar Ibu sambil menyodorkan piring itu kepadaku.
“Tapi tidak dengan Ibu. Ibu sama sekali tidak pernah bertanya apa pun tentang itu dan tidak peduli dengan desakan orang-orang di sekitarnya.Aku tahu, Ibu diam-diam justru membelaku.”
"Nduk, hidupmu adalah milikmu sepenuhnya,pilihanmu, Ibu bisa apa selain mendukungmu,"
"Jangan pedulikan omongan orang lain, bukan mereka, tapi kamu sendiri yang menjalani hidupmu."
"Bu, besok calonku mau berjumpa dengan Ibu.” Ibu tampak seperti tidak percaya mendengar hal itu. Sekilas kulihat, ekspresi wajahnya sama bahagianya dengan wajah yang ada di foto usang saat menggendongku. Ibu kemudian memelukku erat sekali.

2. Sayangnya seorang anak kepada ibunya
Anak mana yang tidak sedih melihat ibunya sakit. Seorang anak yang menyayangi ibunya akan merasakan sakit juga disaat ibunya tersakiti, seperti dalam kutipan cerpen:
“Ibu seperti tidak menyadari kehadiranku. Aku melihat sudut bibir Ibu membiru. Aku tahu pasti si juragan itu habis memukul ibuku. Tidak lama, Ibu tiba-tiba menangis meraung-raung. Ibu kemudian membawa pisau yang terhunus dan menancapkannya ke pintu berkali-kali seperti kesetanan. Aku mematung dan menangis karena ketakutan. Pisau menancap di daun pintu. Ibu jatuh tersungkur masih setengah histeris. Aku berlari memeluk Ibu dalam diam dengan tubuh gemetaran.”
"Itu aku yang dulu, Bu, yang masih marah, dendam, dan trauma. Bu, besok calonku mau berjumpa dengan Ibu.” Ibu tampak seperti tidak percaya mendengar hal itu. Matanya berkaca-kaca. Aku pergi membuatkan ibu chai tea lagi, meninggalkan Ibu di ruang tamu seorang diri. Seorang Ibu yang sedang bersyukur karena doa-doanya yang panjang akhirnya dikabulkan.”


Daftar Pustaka

Riadi, Slamet. 2021. Cerpen Sore Bersama Ibu. https://ruangsastra.com/2159/sore-bersama-ibu/ . (23 oktober 2023)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik Novel Karya Tenderlova: “Tulisan Sastra”

ANALISIS UNSUR INSTRINSIK DAN EKSTRINSIK TEKS CERPEN “SURAT UNTUK EMAK” KARYA E ROKAJAT ASURA Oleh: Ameliya Ditasya (23016135) Email: Ameliya.1425@gmail.com

Nilai Dalam Novel Karya Sastra Azhara Natasya: Retak