Nilai Dalam Cerpen Karya Sastra Ayu Febriana: Istirahat
Nama Saya Ameliya Ditasya dengan NIM 23016135, saya akan menyampaikan beberapa pesan atau nilai yang saya dapat dari membaca cerpen karya sastra dari Ayu Febriana yang berjudul “Istirahat”
Cerpen ini menceritakan tentang Ayu, seorang gadis yang di tinggal oleh orang tua laki-lakinya sebelum hari wisudanya. Sosok bapak yang selalu ada menyemangati setiap proses yang dilalui Ayu, yang selalu berbangga dengan pencapaian ayu, dan selalu bertanya kabar Ayu walaupun itu hanya sekedar menanya sudah makankah atau sudah sholat. Ayu merasa kehilangan sosok bapak menjadikan dunianya seakan akan diterpa badai dahsyat. Dengan dukungan ibu dan kakaknya Ayu melanjutkan kuliahnya hingga dimana hari wisudanya ia mengajak ibu dan kakaknya untuk pergi ke makam bapak, agar tidak hanya mereka yang merayakan, tapi bapak juga ikut dalam perayaan hari wisudanya yang itu sebelumnya menjadi harapan sebelum bapak meninggal.
Sinopsis:
Angin sore menyapu kulit wajahku yang lengket akibat rembesan air mata yang mengering. Pucuk batang ilalang bergoyang-goyang menikmati semilir embusan angin. Kebaya ungu yang melekat di tubuhku tampak mencolok di antara susunan batu nisan yang terhampar di atas tanah coklat seluas satu rantai. Topi wisuda masih setia bertengger di kepalaku, seolah hendak unjuk diri bahwa orang yang mengenakannya sudah resmi menyandang gelar di hadapan puluhan makam.
Seusai acara wisuda, aku mengajak ibu dan kakakku berziarah. Menyampaikan kabar anak bungsunya sudah lulus kuliah tepat di pusara sang bapak. Kembali kuusap tulisan yang terpahat di atas batu nisan hitam itu untuk yang kesekian kalinya. Perasaan menyesal terus-menerus menghantam nuraniku, berpikir andai saja aku lulus lebih cepat pasti bapak turut bersuka cita merayakannya seperti teman-temanku yang lain. Mengingat watak bapak yang bersikap seolah tak acuh, padahal ialah yang paling sering membanggakan anak-anaknya di hadapan para kerabat.
Pesan dan nilai-nilai yang dapat di ambil:
1. Kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.
Walaupun ayah bukanlah orang yang pintar dalam mengekspresikan kasih sayangnya, tetapi ayah adalah garda terdepan yang akan melindungi dan menjaga anak-anaknya, dan berbangga atas pencapaian-pencapaian yang diperoleh anaknya. Seperti dalam kutipan cerpen:
”Anak bontotku itu sudah jago jahit, ini dia sendiri yang bikin,” ujarnya kala itu, memamerkan tas serut kain yang kubuat untuk tempat bekal kerja di kebun sawit atas permintaannya di depan teman-temannya.
“Aku kembali teringat kenangan waktu mendengar suara bapak lewat telepon, bertanya tentang hal-hal sepele seperti aku makan pakai lauk apa, sudah shalat atau belum, atau bahkan sekadar membangunkan di pagi hari.”
2. Usaha seorang anak untuk membahagiakan orang tua
Tidak ada yang bisa diberi untuk membalas budi kedua orang tua, salah satu caranya hanya dengan membahagiakan mereka dengan hasil-hasil pencapaian kita hingga mereka merasa bangga karena telah membesarkan kita. Seperti dalam kutipan cerpen:
“Topi wisuda masih setia bertengger di kepalaku, seolah hendak unjuk diri bahwa orang yang mengenakannya sudah resmi menyandang gelar di hadapan puluhan makam.”
“Kembali kuusap tulisan yang terpahat di atas batu nisan hitam itu untuk yang kesekian kalinya. Perasaan menyesal terus-menerus menghantam nuraniku, berpikir andai saja aku lulus lebih cepat pasti bapak turut bersuka cita merayakannya seperti teman-temanku yang lain.”
3. Mengikhlaskan kepergian seseorang yang sangat disayangi.
Hehilangan adalah hal yang menyedihkan, apalagi kehilangan seseorang yang sangat disayangi yaitu orang tua sendiri. Tetapi Ikhlas adalah satu-satunya cara agar yang pergi tidak membawa beban. Seperti dalam kutipan cerpen:
“Perjuangan bapak telah selesai, sudah waktunya bapak beristirahat dengan tenang. Jangan khawatir pak, sepertinya kami sanggup melanjutkan mimpi-mimpimu yang belum terlaksana. Kami sudah ikhlas. Terima kasih.”
Daftar Pustaka
Febriana, Ayu. 2023. Cerpen istirahat. https://app.komp.as/qdpjoMkK2P3ycPTo7 . (23 oktober 2023)
Komentar
Posting Komentar