Nilai dalam Novel Karya Sastra Tenderlova: Tulisan Sastra.
Nama Saya Ameliya Ditasya, saya akan menyampaikan beberapa pesan atau nilai yang saya dapat dari membaca novel karya sastra dari Tenderlova yang berjudul "Tulisan Sastra"
novel ini bercerita tentang lika liku kehidupan Andhika Sastra Gautama atau yang dipanggil Sastra, mulai dari keluarga, impian, sampai dengan asmara. Sastra merupakan anak tengah dari keluarga Suyadi. Sosok yang humoris namun tidak begitu suka hujan. Tinggal bersama mama dan saudara-saudaranya dalam rumah sederhana yang dibangun bapak dan mamanya. Sastra sangat mencintai keluarganya, namun dia juga begitu mencintai musik dan Sahara kekasihnya. Bapak lebih dahulu berpulang dan meninggalkan mama, Sastra dan saudara-saudaranya. Kata mama yang paling mirip perawakannya dengan bapak adalah dirinya. Baginya, impian sama halnya dengan tangga nada. Keluarga adalah garis paranada sedangkan Sahara melengkapinya dengan jajaran not balok untuk menjadikannya lebih indah. Sastra tidak hanya memiliki sifat humoris, dia juga sosok yang romantis, namun terkadang bisa saja menjadi sosok yang tragis. Pasalnya, sastra sangat mencintai Sahara dengan sepenuh hatinya dan menjadikan Sahara sebagai sumber penyemangatnya. Akan tetapi tidak dengan Sahara, ia hanya menjadikan Sastra sebagai tempat pelarian semata. Namun, seiring berjalannya waktu, Sahara perlahan mulai mencintai Sastra meski setelah itu keadaan tidak berpihak padanya. Sastra mengalami kecelakaan setelah mengantarkan Sahara pulang, kondisinya sangat parah sampai kritis dan dilarikan ke rumah sakit. Sampai akhirnya dokter menyatakan nyawanya tidak bisa diselamatkan. Kepergian Sastra sangat memberikan duka yang mendalam bagi Sahara, keluarga Suyadi dan teman-temnnya. Sahara mengira mungkin ini adalah karma bagi dirinya yang harus ditanggung karena telah menyia-nyiakan Sastra, orang yang tulus mencintainya.
Setelah saya membaca novel ini saya merasa banyak nilai-nilai yang dapat di ambil dari novel ini, seperti nilai hubungan manusia dengan tuhan, hubungan menusia dengan orang lain, hubungan manusia dengan diri sendiri.
Pertama, nilai hubungan manusia dengan tuhan (1) bersyukur kepada Allah; “kalau rasanya capek kerja keras, capek menghadapi masalah-masalah hidup, ya istirahat, istigfar, bukannya mengeluh. Mengeluh nggak akan meneyelsaikan masalah apapun, Sastra.” Kata bapak waktu itu. Mengeluh sebenarnya boleh, tapi bapak berharap bahawa anak-anaknya tidak lupa bersyukur pada apa yang mereka miliki selama ini. (Tenderlova, 2020: 13).
Kedua, nilai hubungan manusia dengan orang lain (1) berbakti kepada orang tua; “Maaf, Tama belum bisa menjadi anak yang baik buat Mama. Maaf, karena Tama selalu menunda-nunda untuk pulang.” (Tenderlova, 2020: 119). Kutipan tersebut menjelaskan bawata Tama melepas rindu bersama Mamanya setelah bertahun-tahun lamanya tidak pulang, pelukan Mamanya adalah hal yang paling di rindukan. (2) jujur; “Ini bukan pertama kalinya Baron, Fajar dan Edo memalak saya, Bu. Kemarin Baron meminta saya bawa uang yang banyak, tapi saya Cuma punya uang 200 ribu, itupun uang tabungan saya. Baron enggak terima, jadi saya dipukulin. Terrus Cetta datang, nolongin saya. Jadinya mereka berantem.” (Tenderlova, 2020: 53). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa Jaya berusaha mengatakan yang sejujurnya dengan sisa ke khawatiran di dalam dada.
Ketiga, nilai hubungan manusia dengan diri sendiri (1) mengakui kesalahan; “Apa semua masalah harus di selesaikan dengan kekerasan? Mengalah tidak akan bikin kamu jadi pengecut, Sastra.” ( Tenderlova, 2020:112). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa Sastra mengakui kesalahnya kepada Kak Eros. Kakak ke dua dari tujuh bersaudara. Sastra merupakan anak ke 4.
Komentar
Posting Komentar